Assalamu'alaykum ^_^

Teruntuk Siapapun Yang Merindukan Kemuliaan & Kebangkitan ISLAM

Assalamu'alaykum Warahmatullah..

Selamat Datang
Semoga Bermanfaat

3/31/11

Islam vs Kapitalis-Sekuler

Banyaknya persoalan hukum yang tidak selesai di negeri ini seperti kasus BLBI, Skandal Century hingga kasus pajak serta ironisme penegakan hukum yang bagaikan pisau: tajam mengiris ke bawah tetapi tumpul tak berdaya ke atas melahirkan pertanyaan “apa yang salah dengan hukum di negeri ini?”. Pengamatan yang mendalam akan menyimpukan bahwa semua ini merupakan akibat dari penerapan sistem hukum kapitalis – sekular. Sebagian kaum Muslimin telah menyadari hal ini dan menginginkan penerapan hukum Islam sebagai pengganti sistem hukum kapitalis – sekuler. Apa yang membedakan antara hukum Islam dan hukum kapitalis – sekular? Serta apa keunggulan sistem hukum Islam (khususnya sistem persanksian Islam) sehingga diyakini akan mampu menyelesaikan persoalan – persoalan yang tidak mampu diselesaikan oleh sistem hukum kapitalis – sekular?
Perbedaan Mendasar Antara Sistem Hukum Islam vs Hukum Kapitalis – Sekular
Sistem hukum Islam dan sistem hukum Kapitalis – Sekular bukan hanya tidak sama tetapi juga berbeda secara mendasar. Perbedaan itu antara lain dilihat dari aspek:
Aspek Islam Kapitalis – Sekular
Aqidah Islam Kapitalis – Sekuler
Standar Kebenaran Ketetapan ALLAH Akal Manusia
Sumber Hukum Wahyu Pendapat Manusia
Pembuat Hukum ALLAH Manusia (exp. parlemen)

a. Aqidah
Sistem hukum Kapitalismelahir dari aqidah Kapitalisme – Sekularisme yang spiritnya adalah pemisahan agama dari kehidupan untuk menciptakan suatu kebebasan. Sistem hukum ini lahir dari falsafah Barat yang memandang bahwa kebebasan merupakan pokok pangkal tegaknya masyarakat sehingga legislasi hukum hanya bertujuan untuk menata kehidupan yang rukun antara kekuasaan dan kebebasan dalam kerangka Negara – rakyat. Dalam pandangan aqidah Kapitalisme – Sekularisme legislasi hukum dibangun atas konsep pembingkaian dan pengokohan kebebasan individu. Dengan konsep “pemisahan agama dari kehidupan”, dalam sistem hukum ini tidak dikenal prinsip legislasi hukum yang bersifat langgeng dan tetap. Hukum dapat saja berubah kapan pun sesuai dengan kondisi yang ada . Sedangkan Sistem hukum Islam lahir dari aqidah Islam yang spiritnya adalah pengakuan bahwa manusia adalah makhluq sekaligus hamba bagi ALLAH, sang Pencipta serta pengakuan akan keterbatasan manusia. Sehingga, dalam sistem hukum ini hukum disusun (dilegislasikan) untuk “memfasilitasi” ketaatan hamba kepada Tuhannya.

b. Standar Kebenaran
Karena lahir dari aqidah Kapitalisme – Sekulerisme yang spiritnya adalah kebebasan pemisahan agama dari kehidupan, maka yang menjadi standar kebenarannya dikembalikan kepada keinginan dan akal manusia. Apa saja yang dianggap akal sebagai sesuatu yang baik maka akan dianggap baik dalam sistem hukum ini. Demikian juga, apa saja yang diinginkan manusia akan dianggap baik dalam sistem ini. Dan sebaliknya apa saja yang ditolak akal, mengekang kebebasan atau tidak sesuai dengan keinginan manusia dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Karena pola piker dan keinginan manusia berbeda – beda, maka standar kebenaran yang mereka terapkan juga berbeda – beda. Sehingga, hukum yang lahir dari standar kebenaran semacam ini hanyalah merupakan hasil kompromi atas berbagai macam keinginan yang ada. Akibatnya, hukum yang dihasilkan masih memiliki banyak celah untuk terjadinya pelanggaran – pelanggaran hukum yang tampak “benar” dan pelakunya bisa dengan leluasa menghindar dari jeratan hukum karena standar kebenaran yang tidak tegas ini. Sebagai contoh misalnya dalam kasus terbitnya majalah Playboy. Meski dalam pasal 282 KUHP telah diesebutkan “Barangsiapa menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan di muka umum tulisan, gambaran atau benda yang telah diketahui isinya melanggar kesusilaan, atau barangsiapa dengan maksud untuk disiarkan, dipertunjukkan atau ditempelkan di muka umum, membikin tulisan, gambaran atau benda tersebut, memasukkannya ke dalam negeri, meneruskannya, mengeluarkannya dari negeri, atau memiliki persediaan, ataupun barangsiapa secara terang-terangan atau dengan mengedarkan surat tanpa diminta, menawarkannya atau menunjukkannya sebagai bisa diperoleh, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun enam bulan atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima ratus rupiah.” Namun karena standar “kesusilaan” bagi tiap orang itu berbeda, maka ini menjadi celah bagi para pelaku pelanggaran untuk berkelit dari jeratan hukum. Bahkan atas nama kebebasan—yang menjadi spirit—dalam Kapitalisme – Sekularisme, si Pimpinan Redaksi Majalalah Playboy mengklaim dirinya sebagai “Editor in Chief Playboy Indonesia yang sejak 2006 dizhalimi oleh orang – orang yang anti pada kebebasan berfikir dan berekspresi” . Akibatnya, hingga saat ini dia masih terus berkelit mencari pembenaran atas pelanggaran yang dia lakukan, vonis 2 tahun penjara yang telah ditetapkan pun belum berhasil membawanya ke penjara. Demikian juga dengan kasus video porno 3 artis papan nama yang mencuat Juni lalu. Meski UU Pornografi telah disyahkan, toh nyatanya para pelaku video porno seperti mereka tetap banyak dan susah dijerat karena UU ini pun punya banyak celah bagi pelanggaran yang tampak “benar”. Misalnya seperti pada penjelasan pasal 4 UU Pornografi dikatakan bahwa “Yang dimaksud dengan “membuat” adalah tidak termasuk untuk dirinya sendiri dan kepentingan sendiri.” . Demikian juga dengan undang – undang yang lainnya, tetap saja ada banyak peluang bagi pelanggaran yang tidak bisa dijerat karena seolah – olah tampak benar. Jika demikian, apa gunanya legislasi hukum?
Berkebalikan dengan itu, standar kebenaran dalam Islam adalah ketetapan ALLAH. Yang disebut sebagai perbuatan kriminal atau pelanggaran hukum atau kema’siyatan adalah segala tindakan meninggalkan kewjiban, mengerjakan perbuatan yang haram, atau melanggar ketetapan Negara (dengan catatan Negara tidak mengubah ketetapan ALLAH) . Sedangkan kita ketahui bahwa ketetapan ALLAH tentang segala perbuatan manusia telah dijelaskan lengkap dengan segala batasan dan pengecualiannya dalam Al – Qur’an dan As – Sunnah. Dengan standar yang jelas seperti ini, tidak ada lagi celah bagi pelanggaran hukum yang tampak ”benar” dan segala bentuk pelanggaran hukum akan mudah diketahui dan disepakati sebagai pelanggaran yang harus dihukum. Masih dengan contoh yang sama, tentang ”kesusilaan” dan ”porno”. ALLAH telah menetapkan batasan – batasan yang jelas tentang aurat. Maka, setiap perilaku menampakkan aurat di depan orang yang tidak berhak melihatnya adalah sebuah tindakan kriminal yang harus mendapatkan sanksi. Sehingga orang akan berfikir seribu kali untuk melakukan pelanggaran hokum karena tidak ada lagi celah untuk berkelit dan menghindari hukuman, apalagi penerapan system hukum Islam ini didasari oleh spirit ketundukan pada ALLAH.

c. Sumber Hukum
Hukum Kapitalis – Sekuler bersumber pada akal manusia. Baik itu berupa warisan hukum dari Negara lain (missal beberapa hukum di Indonesia merupakan warisan hukum Penjajah Belanda), kebijakan para filsuf, kehendak penguasa, atau pun kehendak rakyat (melalui parlemen). Padahal akal manusia sangat terbatas. Mungkin dia dapat membuat aturan yang tepat untuk dirinya dan beberapa orang di sekelilingnya untuk saat ini tetapi dia tidak akan pernah bisa membuat aturan untuk orang yang kehidupannya berbeda dengannya, juga dia tidak akan mampu membuat aturan untuk masa depan karena dia tidak mengetahui bagaimana kehidupan orang lain yang jauh berbeda dari kehidupannya dan bagaimana keadaan masa depan. Hukum yang bersumber dari sesuatu yang penuh keterbatasan ini tentu saja tidak mungkin mampu menjadi hukum yang kuat dan tepat untuk mengatur kehidupan manusia.
Hukum Islam hanya bersumber dari Al – Qur’an dan As – Sunnah dan apa – apa yang ditunjuk oleh keduanya, yaitu ijma’ shahabat—yang dinyatakan tidak mungkin bersepakat dalam kebohongan—dan qiyas. Al – Qur’an dan As – Sunnah merupakan ketetapan ALLAH, sedangkan Ijma’ dan Qiyas tetap merujuk pada keduanya. Sehingga, pada dasarnya hukum Islam hanya bersumber pada ALLAH.

d. Pembuat Hukum
Sebagai konsekuensi dari standar kebenaran yang digunakan, pembuat hukum mengikuti pemilik standar tersebut. Dalam sistem hukum Kapitalis – Sekular manusia dianggap sebagai pemilik standar kebenaran dan paling mengerti manusia dan kehidupannya,sehingga selera manusialah yang dijadikan sebagai satu – satunya pembuat hukum. Secara teoritis, dalam sistem hukum Kapitalis – Sekular, rakyatlah sumber hukum tertinggi. Aturan dibuat oleh rakyat untuk dilaksanakan sendiri oleh rakyat. Namun, pada faktanya hukum Kapitalis – Sekular lebih banyak bersumber pada kepentingan para penguasa atau pun pemilik modal. Bisa dipahami bahwa setiap manusia pasti memiliki kepentingan dan keinginan. Ketika dia memiliki kekuasaan untuk membuat hukum, pasti dia akan berusaha semaksimal mungkin agar hukum tersebut tidak merugikan dirinya dan dapat memfasilitasi dia untuk memperoleh kepentingannya. Teori bahwa manusia dapat membuat hukum yang adil bagi seluruh manusia adalah teori yang tidak pernah terbukti kebenarannya, bahkan sudah cacat sejak awal. Bagaimana mungkin dia mampu membuat hukum yang adil bagi seluruh manusia sedangkan dia sendiri memiliki kepentingan di dalamnya? Itulah kenapa begitu banyak peraturan di negeri ini yang tetap disahkan meskipun sangat tidak adil dan menyengsarakan masyarakat. Peraturan tentang TDL, pencabutan “subsidi”, dan perdagangan bebas hanyalah sedikit contoh dalam hal ini.
Berbeda dengan itu, Islam hanya mengakui ALLAH sebagai sumber dan pembuat hukum. Hanya ALLAH – lah sumber dan pembuat hukum paling adil karena DIA – lah yang telah menciptakan manusia dan DIA sama sekali tidak memiliki kepentingan terhadap manusia. Maka, hukum yang dibuat – NYA pun menjadi hukum ynag paling adil dan paling mampu untuk mengatur kehidupan ummat manusia dari masa ke masa tanpa perlu amandemen.
Seputar Ijtihad
Banyak yang menyangsikan kemampuan hukum Islam dalam menyelesaikan permasalahan hidup manusia karena sifatnya yang tetap, tidak mengenal perubahan padahal problematika manusia terus berkembang. Islam menjawab keraguan ini dengan kebolehan ijtihad pada ranah tertentu; yaitu pada ranah yang ALLAH tidak menentukan secara detil batasan – batasannya, hanya menentukan garis besarnya saja. Dengan demikian, Islam tetap akan mampu menyelesaikan berbagai permasalahan manusia yang detilnya terus berkembang.
Namun, dari sana seringkali muncul pertanyaan berikutnya “jika demikian, berarti para mujtahid itu menjadi partner ALLAH dalam membuat hukum?”. Sebenarnya tidak dapat dikatakan demikian karena para mujtahid itu hanya berwenang mendetilkan hukum – hukum yang garis besarnya telah ditetapkan ALLAH jauh berbeda dengan tugas pembuat hukum dalam sistem apitalis – Sekular yang benar – benar memunculkan hukum baru dari hukum yang tidak ada.
Seputar Kategorisasi Jenis Pelanggaran dalam Sistem Hukum Islam

Dalam Islam, jenis – jenis pelanggaran dikategorikan menjadi 4 kategori besar (sebagian ulama mengkategorikannya menjadi 3 kategori saja); yaitu pelanggaran yang berakibat pelakunya akan menerima sanksi hudud, jinayat, ta’zir, dan mukhalafah.

a. Hudud
Hudud adalah sanksi atas kemaksiayatan yang telah ditetapkan kadarnya dan menjadi hak ALLAH. Dalam jenis pelanggaran ini, tidak ada hak bagi siapa pun untuk memberi ampunan bagi pelakunya kecuali ALLAH. Pelanggaran jenis ini kadar sanksinya telah ditetapkan oleh ALLAH secara langsung dan siapa pun tidak berhak menguranginya. Pertimbangan apa pun tidak dapat digunakan untuk meringankan sanksi apalagi membebaskan pelakunya dari hukuman. Yang termasuk kategori hudud misalnya: zina (dengan sanksi rajam sampai mati bagi pezina mukhshon atau dicambuk 100x bagi pezina ghayra mukhshan), homoseksual (dengan hukuman mati), qazhaf atau menuduh perempuan mu’minah berzina tanpa 4 orang saksi (dengan hukuman 80x cambukan), meminum khamr (dengan hukuman 40 atau 80 x cambuk), mencuri bukan karena terpaksa dan mecapai kadar ¼ dinar (dengan hukuman potong tangan), murtad (dengan hukuman mati), dll.

b. Jinayat
Jinayat adalah sanksi yang diberikan atas penganiayaan terhadap manusia (jiwa maupun badan). Untuk pelanggaran jenis ini, ahli waris korban memiliki hak untuk menuntut ditunaikannya jinayat atau mengampuni pelaku dan hakim wajib menerima keputusan ahli waris atas pelaku pelanggaran tersebut. Contohnya adalah pada kasus pembunuhan yang disengaja (dengan sanksi hukuman qishash atau diyat berupa 100 ekor unta dan 40 ekor di antaranya sedang hamil).

c. Ta’zir
Ta’zir merupakan sanksi yang bersifat edukatif yang diberikan atas tindakan pelanggaran yang kadar hukumannya tidak ditetapkan secara pasti oleh ALLAH. Sanksi atas pelanggaran jenis ini ditetapkan oleh Khalifah atau qadhi. Misalnya ta’zir atas Muslim yang dengan sengaja tidak melaksanakan shalat, memalsukan dokumen Negara, pencemaran nama baik, dll. Untuk pelanggaran jenis ini hakim berhak meringankan atau memberatkan hukuman berdasarkan berbagai macam pertimbangan, misalnya perilaku baik pelakunya, keadaan pelakunya, pelanggaran yang pertama atau pelanggaran berulang, dll. Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Ausyah r.a. bahwa Nabi bersabda: “Ringankanlah (sanksi) bagi orang yang memiliki perangai terpuji atas pelanggaran mereka, kecuali hudud”.

d. Mukhalafah
Mukhalafah adalah sanksi yang diberikan atas pelanggara terhadap aturan Negara (dengan catatan bahwa Negara tidak boleh mengubah hukum ALLAH). Kadar sanksi untuk pelanggaran jenis ini ditetapkan oleh Khalifah.
Adanya kategorisasi tersebut akan meminimalisasi kemungkinan kesewenang – wenangan aparat penegak hukum dan kemungkinan terjadinya peradilan yang tidak adil. Karena penegak hukum hanya memiliki kewenangan untuk menambah / mengurangi hukuman pada area pelanggaran tertentu saja. Berbeda dengan sistem hukum Kapitalis – Sekular yang keputusan pengadilan dapat dibeli karena semua keputusan ada di tangan manusia dan seolah – olah menjadi hak prerogative aparat penegak hukum sehingga memunculkan ketidakadilan. Bahkan, dari berbagai jajak pendapat 89,8% masyarakat percaya keputusan hukum di Indonesia bisa dibeli dengan uang. (Jajak pendapat Kompas,9/11/09).
Demikianlah telah jelas antara yang benar dan yang sesat. PIlihan ada di tangan kita, akan terus mempertahankan Sistem Hukum Kapitalis – Sekular yang rusak ini atau memperjuangkan tegaknya Sistem Hukum Islam yang menjamin tegaknya keadilan di muka bumi.

link tambahan ~>
Sistem Persanksian Islam (Telaah Kitab Nizhâm al-’Uqûbât fî al-Islâm)
http://pertarungan-ideologi.blogspot.com/2008/09/sistem-persanksian-islam-telaah-kitab.html
Memahami Sistem Sanksi Dalam Islam
http://dakwahkampus.com/artikel/pemikiran/1452-memahami-sistem-sanksi-dalam-islam.html

3/23/11

Ilusi Liberalisme (PUISI) ::.renungan.::

Aku bermimpi tntng keindahan..
Saat pintu2 rumah hangat menyambutku..
Saat ayah bunda ramah menyapa..
Saat buaian keluarga memeluk akrab..

Aku bermimpi tntg kegalauan..
Saat dinginnya hati mencengkram raga..
Saat kemunafikan merasuk jiwa..
Saat dorongan nafsu menghalau taat..

Aku bermimpi tntg kehampaan..
Saat tangan2 bermain dg jarum narkoba..
Saat laki2 tersungkur d jegal maksiat..
Saat indera ragawi terselimuti kedustaan..
Lalu tirai pun tersingkap....
Pada kenyataan yg memerihkan..

Saat airmata shabatku jatuh d pi2nya yg cekung..
Di bi2rnya yg pucat iapun berujar... "aku galau"....
Saat te2san darah membuncah dr keputusasaan..
Di bibirnya yg membiru iapun berujar... "aku sudah tak berharga"...
Kulihat d si2nya...ada bayi menangis krn terhempas dr dekap calon bundanya..

Di sudut lain....
Mata temanku menatap kosong tanpa harapan..
Jari jemarinya menghentak-hentak tanpa aturan..
Di bi2rnya yg kering ia berujar.."aku resah"..
Saat keringatnya semakin menderas iapun tersengal..
Di bi2rnya yg kerontang ia berujar.. "aku sudah tak kuat"..
Kulihat dr sudut mataku....dalam dekapannya ada robekan kertas surat perceraian ayah bundanya..

Lalu...
Saat ku toleh di belakangku..
Ribuan perempuan muda terjerat video mesum..
Ribuan lelaki muda terjerembab komunitas beringas..
Ribuan orang tua tersungkur dalam lumpur kemunafikan..
Ribuan tata tertib mengatur dg semrawut..!
Ribuan RACUN beraroma madu menyebar..

Aku terpaku dalam senyap..
Memadu resah dengan harap..
Fatamorgana semakin menutupi realita..

AAAAH....
Kemanakah para pembawa pelita itu..?
Para pembawa kebenderangan...

Akupun mencari makna...
Tentang Usamah bin Zaid...
Tentang Abdullah bin Rawahah...
Tentang Asma binti umais...
Tentang Fatimah Azzahra...
Tentang....... KITA!!!
Tentang....... Makna kita.!!

Wahai sahabat...
Wahai temanku...
Lantas apa yg mesti kita lakukan.??????
----------------
----------------

****
Jangan ikuti gaya hidup jahiliyah
Merusak raga jiwa serta agama
Merusak pribadi, keluarga negara

Ayooo luruskan dengan Islaaam

Kembali pada Islam

Islam adalah sebaik-baik solusi

Bersih hidup dalam naungan tatanan Syariah

******

Peran Muslimah Dalam Meraih Kebangkitan Hakiki

Saudariku, sesungguhnya wanita muslim dalam hal ini muslimah sebenarnya memiliki peranan yg sangat penting dalam perjuangan.
Mari qt sejenak mengingat gambaran para shahabiyah pada masa Rasulullah yang dengan Ikhlas dan istiqomah ikut andil dalam perjuangan bersama Rasulullah dan sahabat2 lainnya. Nama ibunda Khadijah, ibunda Sumayyah, ibunda Khanza, ibunda Aisyah, Asma binti abu bakar, Fatimah Azzahra, dll. Merupakan para wanita tangguh yg kiprahnya dalam perjuangan tdk d ragukan lagi baik oleh kalangannya maupun pria d masa itu.
Mereka adalah sosok anak, ibu, istri, kakak, dan adik bagi keluarganya. Tp dengan posisi2 itu mereka mengoptimalkan diri untuk tidak ketinggalan meraih pahala dalam memperjuangkan dien mulia ini. Ada yg turun d medan Jihad dan adapula yg hanya menjadi pendamping bagi suami mereka. Meskipun mereka hanya d rumah, namun motivasi, do'a dan semangat senantiasa teriring dalam stiap langkah suami, saudara, dan anak2 mereka yang melangkahkan kaki d medan juang.
Subhanallaah..
Sosok Rasululullah saw sebagai nabi yg d utus Allah untuk sluruh umat d dunia, siapakah yg berada d balik kehidupannya? Yg senantiasa mendampinginya, memberikan kekuatan d saat beliau merasa takut, memberikan smangat d kala beliau d hinakan oleh sebagian besar pemukac mekkah? Tiada lain tiada bukan adalah sosok ibunda Khadijah.
Dibalik ketangguhan imam Ali ra ada sosok Fatimah Azzahra, begitupun dibalik kesuksesan imam syafi'i sebagai seorg imam yg hasil ijtihadnya menjadi pedoman bg sebagian besar kaum muslim tentunya ada sosok ibu yg telah melahirkan, membimbing, mendidik dan memotivasinya.

Saudariku., para muslimah khususnya aktivis muslimah. Keberadaan qt memiliki peran yg sangat besar bg perjuangan. Dari rahim kitalah lahir generasi2 tangguh pewaris peradaban pelanjut perjuangan.
Saudariku, para muslimah khususnya aktvis muslimah, posisi qt sebagai (calon) ummun wa rabbatul ba'it merupakan posisi yg kadar dan pahalanya sama dg pahala yg d peroleh para pria ktk mereka berjuang. Tentunya itu akan qt dapatkan ketika kita mampu betul2 mendudukkan peran qt secara maksimal.
Saudariku, para muslimah khususnya aktivis muslimah. Pada pria ada kewajiban menuntut ilmu, berjuang dan berdakwah. Begitupun dengan kita. Dipundak kita ada tanggung jawab berdakwah, peran qt sebagai ummun wa rabbatul bait dan sebagai anak yang harus menjalankan birrul waalidaiin tidak melepaskan amanah dipundak kita sebagai pengemban dakwah. Oleh karena itu maksimalkanlah peran2 kita ini.
Saudariku, tidak kah qt iri melihat saudari2 qt d belahan bumi lain yang ikhlas mempersembhkan nyawanya utk mempertahankan agama ini? Tidakkah qt iri melihat ratusan bhkan ribuan muslimah yg tidak gentar meneriakkan takbirnya yg d lakukan meskipun harus berhadapan dengan tank2 zionis??
Saudariku, masihkah qt terlena dengan kehidupan qt yg glamor, manja dan masih sering menjadikan masalah pribadi kita sebagai masalah terbesar dalam hidup, sehingga kita menutup mata dan telinga terhadap apa yg menimpa umat saat ini??
Masihkah qt meratapi nasib yg sampai detik ini belum memperoleh penghidupan yg cukup, belum memperoleh pendidikan bhkan sarana kesehatan yg memadai?
Saudariku, masihkah qt menjadikan individualistik, hedonistik, dan materialistik sebagai asas atau landasan berfikir qt??
Sungguh saudariku sebagai seorg muslimah semua itu sudah tdk pantas melekat pada diri qt.
Kini yg seharusnya kita lakukan adalah, mendongakkan kepala, bangkit, membuka mata, hati dan telinga berdiri melihat permasalahan yg sedang membelenggu umat.
Sekali lagi peran kita sebagai muslimah sangat besar.
Ditangan kitalah tanggung jawab mendidik generasi yg pertama dan utama agar mereka nanti menjadi pengisi2 barisan perjuangan.
Kini menjadi pertanyaan bagi kita semua para aktivis muslimah. Apa yg sudah qt lakukan untuk perjuangan ini? Sudah berapa besar pengorbanan qt d jalan dakwah ini? Sudah berapa jam yg qt habiskan untuk umat ini?

Mari qt dudukkan kembali posisi qt yg semestinya sebagai hamba Allah. Sebagai muslimah yang senantiasa mengisi hari2nya dg langkah perjuangan, dalm rangka menyeru dan membela syariatNya. yg senantiasa membekali dirinya dg tsaqofah peradaban. Yg senantiasa mengiringkan langkah perjuangannya dengan tetesan air mata ketegaran, semangat, dan doa perjuangan.

Sungguh mulia dirimu wahai saudariku. Allah telah mendudukkan qt begitu mulia, bahkan jika dunia ini d umpamakan sebagai perhiasan ternyata kitalah perhiasan yg terbaik d dalamnya.
Oleh karena itu, mari kita berlomba2 mewarisi perjuangan ibunda Khadijah, ibunda Aisyah, ibunda Khanza, ibunda fatimah, ibunda Sumayyah,dll.
Karena sekali lagi, qt para wanita muslimah memiliki posisi penting dalam perjuangan, sbg patner para pria dalam mewujudkan kebangkitan Islam yg hakiki.
Allahu Akbar..

-->> Diperuntukkan bagi para aktivis muslimah..
Semoga semangat perjuangan akan terus membara.
Salam perjuangan.
Salam ukhuwah.^_^