Assalamu'alaykum ^_^

Teruntuk Siapapun Yang Merindukan Kemuliaan & Kebangkitan ISLAM

Assalamu'alaykum Warahmatullah..

Selamat Datang
Semoga Bermanfaat

11/18/11

Kisah Cinta Salman Al Farisi r.a

Kisah Cinta Salman Al Farisi ra : Cinta Tak Harus Memiliki


Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang
dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil
tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah
pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan
pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat
kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki
adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia
berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang
pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi
Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak
hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abu Darda’.

”Subhanallaah. . wal hamdulillaah. .”, girang Abu Darda’ mendengarnya.
Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa
cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru
tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.

”Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang
Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah
memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang
utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai
beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili
saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud
Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua,
shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini
bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak
jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi
isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan
segala debar hati.

”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata
sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang
datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami
menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki
urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah.
Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu
mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu
alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan
persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu
yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang
belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia
bicara.

”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan
ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi
pernikahan kalian!”
???

Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki
apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran
tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih,
merasa salah memilih pengantar –untuk tidak mengatakan ’merasa
dikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah,
dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang
yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang
kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.

Mush’ab bin Umair ra : Duta Islam Pertama

Mush’ab bin Umair ra: Duta Islam yang Membuka Kota Yatsrib, Pembuka Ahlul Quwwah


Berhadapan dengan keluarga

Siapakah yang tidak kenal Mush’ab bin Umair. Dialah tokoh yang sangat berjasa terhadap tegaknya Daulah Islam. Dialah yang begitu tinggi kesetiaannya terhadap Islam sehingga rela melepaskan diri dari ibunya yang masih musyrik. Dialah yang disebut para muarrikh (ahli sejarah) dan ahli riwayat sebagai ‘Seorang warga kota Makkah yang mempunyai nama paling harum’. Dialah tokoh besar yang syahidnya ‘sangat syahid sekali’. Dialah Mush’ab bin Umair, duta pertama Islam.

Ia lahir dan dibesarkan dalam ligkungan kesenangan. Lingkungan orang kaya. Lingkungan yang membuatnya mengenal harta yang sangat banyak. Orang tuanya sangat menyayanginya. Segala yang diminta, dituruti. Betapa bahagianya menjadi seorang Mush’ab kecil. Betapa senangnya andai seorang anak diperlakukan demikian. Memang Mush’ab adalah anak orang kaya. Pakaian mewah, harta melimpah. Tampan dan bersih raganya. Sungguh pemuda yang sangat didambakan siapapun juga.

Suatu ketika Mush’ab mendengar ada seseorang yang bernama Muhammad yang mendakwakan diri sebagai nabi. Muhammad mengaku sebagai seorang utusan Allah. Benarkah demikian? Rasa ingin tahu Mush’ab pun semakin mendorongnya untuk mencari tahu akan kebenaran berita tersebut. Dia pun menuju Bukit Shafa di suatu senja dan mendatangi rumah Arqam bin Abu Arqam, sebuah rumah yang dijadikan ‘maktab’ yang digunakan oleh Muhammad sebagai pusat dakwahnya.

Di dalam rumah tersebut Rasulullah Muhammad saw. sedang mengajarkan para sahabatnya tentang Alquran. Mush’ab pun dipersilakan masuk kemudian duduk mendengarkan halqah indah yang datang dari lisan seorang utusan Allah, yaitu Muhammad saw. Keindahan perhalqahan itu pun akhirnya membuat Mush’ab tersentuh dan menyatakan keislamannya. Subhanallah..

Beberapa hari berlalu sejak keislamannya. Khunais binti Malik, ibu Mush’ab yang masih musyrik itu pun akhirnya mendengar pula berita tentang keislaman anaknya. Gemparlah di kalangan keluarga Mush’ab. Di keluarga sana, Mush’ab dibicarkan. Di keluarga sini, Mush’ab pun dibicarakan. Ibunya merasakan malu yang luar biasa. Khunais sering merasa tersindir, sebagai seorang kaya dan berkedudukan, ternyata tidak mampu mendidik anaknya untuk menyembah berhala-berhala. Ya, Khunais pun memutuskan untuk meminta keterangan terhadap anaknya tersebut.

Mush’ab yang merasakan perbedaan sikap kaumnya terhadapnya, mulai menyadari. Mush’ab tahu bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah hal yang sangat beresiko. Oleh karena itulah, kemudian Mush’ab pun berpikir keras untuk menyembunyikan keislamannya. Apa yang dilakukan Mush’ab bukanlah bentuk taqiyyah. Tetapi Mush’ab hanya mengikuti gharizatul baqa’ yang ada dalam dirinya. Ya, Mush’ab memang takut terhadap ibunya. Tetapi rasa takut itu lebih didasarkan pada rasa hormat dirinya terhadap ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya itu.

Suatu ketika, seorang musyrik warga Makkah yang bernama Usman bin Thalhah melihat Mush’ab mondar mandir ke rumah Arqam bin Abu Arqam. Sudah bukan rahasia lagi bahwa rumah tersebut memang sering digelar ‘pengajian misterius’ yangdilakukan Muhammad dengan beberapa orang. Usman yang melihat kejadian tersebut, akhirnya melaporkan semuanya kepada Khunais.

Meledaklah amarah sang ibu. Dikumpulkanlah beberapa tokoh Quraisy dan keluarga besar Khunais. Tujuannya adalah ‘mengadili’ Mush’ab atas tindakan yang telah dilakukannya, yaitu murtad dari agama nenek moyangnya dan lebih memilih mengikuti agama baru yang dibawa Muhammad. Di dalam forum tersebut, Mush’ab berdiri sendirian menyatakan tentang keislamannya. Membacakan ayat-ayat Allah kepada hadirin yang datang, dan mengajak mereka masuk Islam. Tetapi apa daya. Tabir gelap setan telah menutup rapat hati dan akal mereka. Mush’ab ditertawakan, diejek, dan dicaci maki.

Khunais pun maju dan hendak memukul putranya yang telah ‘murtad’ itu. Satu tamparan keras dari tangan seorang ibu hendak mendarat di wajah anaknya yang dicintainya tersebut sebagai tebusan rasa malu yang dideritanya. Tetapi Allah memang Maha Perkasa. Rasa benci Khunais terhadap anaknya yang sudah berpindah agama itu pun terhenti. Tangan yang sedianya digunakan untuk memukul anaknya tergentung tanpa menghasilkan sebuah tamparan. Rasa keibuannya mendorongnya untuk menghentikan itu semua. Khunais pun tidak tega melihat darah dagingnya harus terkena tamparan seorang ibu. Kemudian, Khunais memutuskan agar Mush’ab dikurung, dipenjara karena telah berani mengkhianati agama nenek moyangnya yang secara turun temurun diajarkan para orang tua.

Beberapa waktu Mush’ab tinggal di dalam penjara sampai beberapa orang pengikut Rasulullah mulai berhijrah ke Habsyi. Mendengar hal ini, akhirnya Mush’ab pun berusaha untuk melarikan diri, dan ternyata berhasil. Para penjaga dan ibunya sendiri tidak mengetahui kepergian Mush’ab. Maha Besar Allah dengan segala keperkasaan-Nya yang telah memperturutkan Mush’ab dalam perjalanan menuju Habsyi.

Mush’ab yang sekarang


Pada suatu hari, Mush’ab tampil di hadapan beberapa orang Islam yang sedang duduk di sekeliling Rasulullah saw. Demi memandang Mush’ab, mereka sama menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang basah matanya karena duka. Mereka melihat Mush’ab memakai jubah usang yang ditambal-tambal. Padahal belum hilang dari ingatan mereka bagaimana Mush’ab yang dulu gagah perkasa, berpakaian bagus dan disegani banyak orang. Harum semerbak wangi tubuhnya. Tetapi lihatlah sekarang ia..

Sedangkan Rasulullah saw. sendiri memandang Mush’ab dengan penuh arti, disertai cinta kasih dan rasa syukur yang luar biasa, kemudian beliau bersabda,

“Dahulu saya melihat Mush’ab ini tidak ada yang mengimbagi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya. Kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Sejak Mush’ab masuk Islam, ibunya menghentikan semua pemberian kepada anaknya itu. Harta yang dulu melimpah, kini hilang sudah. Ibunya seolah tidak lagi menganggapnya sebagai darah dagingnya. Ia tak sudi makanannya dimakan oleh seorang laki-laki pengikut Muhammad, walaupun itu adalah anak kandungnya sendiri.

Ketika kepulangannya dari Habsyi, Mush’ab mendapati ibunya menyuruh beberapa orang untuk memenjarakannya sekali lagi. Oleh karena itu, akhrnya dia pun bersumpah akan membunuh setiap utusan ibunya yang memaksanya kembali ke penjara. Ibunya mengetahui kebesaran tekad anaknya tersebut. Kemudian berlinanglah air mata sang ibunda. Khunais menangisi anaknya yang sudah tidak lagi menurut kepadanya. Demikian pula Mush’ab. Ia sama sekali tidak hendak menyakiti siapapun, termasuk ibu kandungnya sendiri. Mush’ab menangis. Bersedih, karena tidak bisa membimbing ibunya untuk bersama-sama masuk Islam.

Ibunya pun mengusirnya dari rumah sambil berkata, “Pergilah sesuka hatimu! Aku bukan ibumu lagi!” Kemudian Mush’ab pun menjawab dengan jawaban yang penuh kasih sayang, “Wahai bunda! Telah ananda sampaikan nasihat kepada bunda, dan ananda menaruh kasihan kepada bunda. Karena itu saksikanlah bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”

Dengan murka, ibunya menyahut, “Demi bintang! Sekali-kali aku tidak akan masuk ke dalam agamamu itu! Otakku bisa jadi rusak, dan buah pikiranku tidak akan diindahkan orang lagi!”

Demikianlah..

Akhirnya Mush’ab pun harus berpisah dengan ibunya, untuk berjuang bersama Rasulullah saw.

Kisah Mush’ab membuka Yatsrib (Madinah)

Dalam perjalanan dakwah bersama kutlah dakwah Rasulullah saw. Mush’ab memegang peranan yang sangat penting sekali. Rasulullah saw. mengutus Mush’ab bin Umair menuju Yatsrib sebagai duta untuk mencari ahlul quwwah sebagai salah satu upaya untuk melakukan thalabun nushrah. Yatsrib adalah sebuah kota yang di dalamnya banyak sekali dihuni oleh orang-orang Yahudi dari berbagai bani; ada Bani Quraizhah, ada Bani Qainuqa’, dan lain-lain. Ada juga orang Islam, tetapi hanya beberapa saja. Sangat sedikit. Di antara mereka ada Suwaid bin Shamit, Iyas bin Muadz, Abu Dzar Al Ghifari, Thufail bin Amr Ad Dausi, Dhimad Al Azdi, As’ad bin Zurarah, Auf bin Harist, bin Rifa’ah, rafi’ bin Malik bin Al Ajlan, Quthbah bin Amr bin Hadidah, Uqbah bin Amr bin Nabiy, dan Jabir bin Abdullah bin Riab, dan beberapa yang lainnya.

Di dalam kota itu juga banyak sekali ditemukan orang-orang pengikut atheis dan Nasrani. Tetapi ada dua suku besar yang mendiami kota tersebut. Kebesaran kedua suku itu melebihi kekuatan kaum Yahudi. Kedua suku tersebut adalah suku Aus dan Khazraj. Kedua suku besar ini selalu terlibat pertempuran dan tidak pernah akur selama ratusan tahun. Semangat kebangsaan (ashabiyah) yang begitu tinggi telah menghalangi keduanya untuk bersatu. Sungguh, Mush’ab memiliki tugas yang amat berat, yaitu mencari ahlul quwwah untuk menopang dakwah Islam.

Sesampainya di Yatsrib (Madinah), didapatinya kaum muslimin di sana tidak lebih dari dua belas orang. Amat sedikit. Yaitu mereka yang telah melakukan baiat di bukit ‘Aqabah. Di Yatsrib, Mush’ab tinggal di rumah As’ad bin Zurarah. Dengan didampigi As’ad, Mush’ab mengunjungi kabilah-kabilah, tempat pertemuan, dan seluruh tempat yang biasanya digunakan untuk berkumpul. Di sana Mush’ab menyerukan agar mereka masuk Islam, dan melindungi dakwah Islam. Apa yang akan diterima mereka jauh lebih besar, yaitu kemuliaan hidup di dunia dan akhirat. Tetapi dakwah memang membutuhkan proses. Tidak seketika itu berhasil. Mush’ab pun didiamkan, dibiarkan saja, dan tidak dipedulikan.

Suatu ketika Mush’ab mengadakan sebuah halqah kecil di kebun milik Bani Zhafar. Dia diampingi oleh As’ad bin Zurarah. Kemudian salah seorang pemuka Yatsrib yang bernama Saad bin Muadz segera memerintahkan seorang kawannya yang bernama Usaid bin Hudhair untuk mendatangi Mush’ab dan As’ad. Saad berkata, “Pergilah dan temuilah dua orang yang datang dan membodohkan orang-orang lemah di antara kita. Hardiklah dan halangilah mereka berdua agar tidak mendatangi tempat kita. Karena As’ad bin Zurarah masih terhidung anak bibiku. Andaikata tidak ada hubungan kekerabatan ini, tentu aku sendiri yang akan menghadapinya.”

Lalu Usaid mengambil tombaknya dan menemui Mush’ab dan As’ad. Tatkala usaid sudah berada di depan halqah tersebut, As’ad membisikkan kepada Mush’ab, “Dia adalah pemimpin kaumnya yang sengaja datang hendak menemuimu. Percayakan urusan dirinya kepada Allah.” Mush’ab berkata, “Jika dia mau duduk, maka aku akan berbicara dengannya.”

Seraya mengacungkan tombak ke dada Mush’ab, kemudian Usaid berkata, “Apa yang kalian bawa kepada kami? Apakah kalian berdua hendak membodoh-bodohkan orang-orang yang lemah di antara kami? Jauhilah kami jika kalian ada keperluan untuk diri kalian sendiri.” Dengan tenang Mush’ab berkata, “Silahkan duduk agar engkau bisa mendengar apa yang hendak aku sampaikan. Jika engkau suka terhadap apa yang aku sampaikan, engkau bisa menerimanya. Tetapi jika tidak suka, engkau tidak perlu menerianya.” Usaid berkata, “Engkau cukup adil.” Usaid menancapkan tombaknya ke tanah dan duduk di perhalqahan Mush’ab dan mulai mendengarkan.

Mush’ab menjelaskan tentang Islam dan membacakan ayat-ayat Alquran kepadanya. Mush’ab berkata, “Demi Allah, aku sudah bisa melihat rona Islam di wajahnya sebelum dia sempat berbicara. Aku bisa melihatnya lewat keceriaan wajahnya dan bibirnya yang komat kamit.”

Usaid lalu berkata, “Alangkah bagus dan indahnya semua ini.” Kemudian dia melanjutkan, “Apa yang kalian lakukan jika hendak memasuki agama ini?” Mereka berdua menajwab, “Hendaklah engkau mandi (junub), bersihkan pakaian, kemudian berikan kesaksian yang benar, kemudian salat dua rekaat.”

Usaid langsung beranjak mandi, membersihkan bajunya, membaca syahadat, dan salat dua rekaat. Setelah itu dia berkata, “Di belakangku ada seorang laki-laki. Jika dia mau mengikuti seruan kalian berdua, maka tak seorang pun dari kaumnya yang menyalahinya. Saat ini pula aku akan membawa dia ke hadapan kalian berdua.” Orang yang dimaksud adalah Saad bin Muadz.

Tidak berapa lama kemudian, Saad bin Muadz sang pemuka Yatsrib pun langsung masuk Islam. Subhanallah wal hamdulillah..

Berita keislaman tokoh tokoh tersebut memancing orang lain untuk ikut masuk Islam, termasuk di antaranya. Tokoh pemuka Anshar ini pun segera masuk Islam ketika para pemuka lainnya juga menyatakan keislamannya. Sejak saat itu, kaum Aus dan Khazraj menjadi ahlul quwwah yang melindungi dakwah Islam hingga Rasulullah memerintahkan kaum muslimin di Makkah berhijrah menuju Yatsrib yang kelak disebut Madinah. Mush’ab bin Umair, selamat atasmu.. Sang duta Islam..

Kisah syahidnya Mush’ab bin Umair

Perang Uhud adalah perang yang tidak akan pernah terlupakan dari benak kaum muslim. Perang Uhud telah menyisakan kesedihan tatkala kekalahan itu menewaskan begitu banyak sahabat Rasulullah saw. termasuk salah satunya adalah Mush’ab bin Umair.

Peperangan berkobar, berkecamuk dengan sengitnya. Suasana semakin genting ketika kekuatan kafir Quraisy semakin menguat. Mush’ab menyadari suasana genting ini. Maka diacung-acungkan bendera rasulullah saw. setinggi-tingginya dan bagaikan auman singa ia bertakbir sekeras-kerasnya. Ia mengobrak-abrik semua yang dihadapinya. Pasukan Quraisy pun kocar kacir dibuatnya.

Mush’ab tetap gagah di atas kudanya, sebagai seorang prajurit, tentara Allah akan melumat siapa saja yang dihadapinya. Baginya, dalam peperangan hanya ada dua hal: membunuh atau dibunuh. Tangannya memegang bendera Rasulullah bagaikan tameng kesaktian, sedangkan tangan sebelahnya lagi memegang pedang yang sangat tajam yang siap menebas leher-leher kekafiran.

Kisah pilu syahidnya Mush’ab bin Umair bermula dari sini.

Mush’ab bin Umair adalah pembawa bendera di Perang Uhud. Tatkala barisan kaum muslimin terpecah, Mush’ab tetap bertahan pada kedudukannya. Tetap pada posisinya mengobrak abrik berisan lawan yang menuju ke arahnya. Tiba-tiba datanglah seorang musuh berkuda yang bernama Ibnu Qami’ah. Dari belakang dia melaju cepat dan seketika itu menebas tangan Mush’ab bin Umair hingga putus. Pedang tidak lagi di tangannya. Ketika hal itu terjadi, Mush’ab berkata “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa rasul.” Maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambil membungkukkan badan untuk melindungi bendera tersebut. Tetapi Ibnu Qami’ah lebih cepat. Sabetan pedangnya membuat tangan kiri Mush’ab juga terputus. Mush’ab membungkukkan badan dan menjepit bendera Rasulullah saw. dengan sisa-sisa tangan yang ada dalam tubuhnya. Bendera itu dijapit dan ditempelkan ke dada seraya berkata, “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa rasul.” Kemudian, denga bersusah payah dengan tangannya yang buntung, Mush’ab berusaha menghindari serangan Ibnu Qami’ah. Tetapi orang Quraisy ini lebih sigap dengan kesempurnaan fisik yang dimilikinya. Ketika Mush’ab membelakangi Ibnu Qami’ah, seketika itu juga Ibnu Qami’ah melemparkan tombak ke tubuh Mush’ab dari belakang sebanyak tiga kali. Kemudian serangan itu diakhiri dengan ditusukkannya sebuah tombak ke tubuh Mush’ab hingga tombak itu terputus. Mush’ab pun syahid seketika bermandikan darah keagungan. Inna lillahi wa inna ilaihi raajii’uun..

Setelah pertempuran usai, ditemukanlah jasad Mush’ab bin Umair dengan wajah menelungkup ke tanah dan dikelilingi darah perjuangan. Rasulullah yang melihat jenazah syuhada Uhud itu kemudian menitikkan air mata.

Salah seorang sahabat yang bernama Khabab bin Al Arrat berkata, “Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah saw. dengan mengharap keridhaan-Nya, hingga pastilh sudah pahala di sisi Allah. Di antara kami ada yang berlalu sebelum menikmati pahalanya di dunia ini sedikit pun juga. Di antaranya adalah Mush’ab bin Umair yang syahid di Perang Uhud. Tak sehelai pun kain untuk menutupinya selain sehelai burdah. Andai ditutupkan ke kepalanya, maka kakinya kelihatan, dan jika ditutupkan hingga ke kakinya, maka kepalanya kelihatan. Kemudian Rasulullah bersabda, ‘Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutupilah dengan rumput idzkhir.”

Dalam perjalanan pulang menuju Madinah, Rasulullah berpapasan dengan Hamnah binti Jahsy, istri Mush’ab. Rasulullah memberitakan syahidnya saudaranya di medan Uhud, kemudian Hamnah berkata, “Inna lillahi…” Tetapi ketika Rasululah memberitakan betapa tragisnya kematian suaminya, Hamnah pun akhirnya menjerit dan menangis. Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya suami wanita itu mempunyai tempat tersendiri di hatinya.”


Rujukan:

1. Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah, Syaikh Khalid Muhammad Khalid

2. Sirah Nabawiyah, Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfury

11/14/11

Mengukur Rasa Cinta

Mengukur Rasa Cinta

By: Agus Trisa



Banyak orang menyatakan bahwa rasa cinta itu tidak bisa diukur. Sebab, jika bisa diukur apa satuan yang tepat untuk mengukurnya? Meter? Kilometer? Gram? Ton? Kwintal? Hektar? Ons? Atau satuan-satuan lain yang bersifat matematis? Oleh karena itu, rasa cinta tidak akan bisa diukur dengan apapun juga, demikian kata orang-orang. Bahkan tidak ada alat atau sarana yang bisa digunakan untuk mengukur rasa cinta. Benarkah demikian? Lalu mengapa ada orang yang menyatakan cintanya sebesar gunung, setinggi langit, sedalam lautan, dan seluas samudra? Bukankah gunung, laut, dan samudra itu juga bisa diukur? Kalau langit? Wallohu a’lam..

Saya berpendapat, mungkin kurang tepat jika cinta tidak dapat diukur. Walaupun tidak memiliki satuan ukuran, tetapi ada hal-hal yang bisa digunakan untuk mengukur rasa cinta, yaitu perhatian, rasa memiliki, dan pengorbanan. Ketiga hal inilah yang bisa kita gunakan untuk mengukur seberapa besar rasa cinta kita terhadap sesuatu.

1. Perhatian

Perhatian adalah minat seseorang atas sesuatu. Perhatian bisa kita artikan sebagai perbuatan memikirkan sesuatu. Mengapa dipikirkan? Namanya juga perhatian. Orang yang memberikan perhatian terhadap sesuatu, berarti dia telah memfokuskan pemikirannya pada hal-hal yang dia cintai. Sebagai contoh, ketika kita mencintai salah satu harta kita, motor misalnya. Maka perhatian kita pada motor tersebut tentu melebihi perhatian kita pada yang lain. Kita memberikan perhatian khusus kepadanya. Kita membersihkannya setiap hari. Tidak cukup diusap memakai kain bekas, bahkan setiap hari mencucinya pun tentu akan kita lakukan.

Begitu juga, ketika kita mencintai lawan jenis kita. Perhatian pun juga akan tertuju ke sana. Mencari-cari dimana dia berada. Kita memikirkannya setiap saat. Mengapa? Namanya juga perhatian. Tidak kelihatan sehari saja, kita kebingungan. Ada rasa yang hilang sepertinya. Mengapa? Sekali lagi, namanya juga perhatian. Jika tidak kelihatan, perhatian ini akan diberikan kepada siapa? Bingung 'kan?

Hal lain yang sering dijadikan perhatian adalah keluarga kita. Seberapa besar perhatian kita terhadap keluarga kita? Terhadap istri, anak, suami, ayah, ibu, dan lain-lain. Berapa kali dalam sehari kita memikirkan mereka? Mungkin melebihi dosis orang minum obat. Pagi dipikirkan, menjelang siang dipikirkan. Tengah hari dipikirkan lagi, kemudian menjelang sore dipikirkan lagi. Sore dipikirkan, sampai Magrib, habis Isya bahkan menjelang Subuh pun masih juga dipikirkannya. Sampai kapan kira-kira? Entahlah..

2. Rasa memiliki


Rasa memiliki adalah perasaan ingin mempertahankan keberadaan sesuatu yang kita cintai dari gangguan apapun yang akan menghalangi eksistensi sesuatu tersebut. Rasa memiliki juga bisa berarti perasaan ingin melindungi. Ketika rasa memiliki kita terhadap motor begitu menguat, maka hal apapun kita lakukan untuk melindunginya. Suatu ketika mungkin kita sedang berbelanja di sebuah toko atau pasar. Sudah ada tukang parkir yang mengamankan motor kita. Tetapi rupanya belum cukup. Takut motor hilang, rantai besar pun dibawa untuk mengikat roda motor kita dengan sesuatu. Tidak hanya itu, bel motor tanda ada maling pun dipasang di berbagai sudut motor. Suaranya dikeraskan biar terdengar jika ada pencuri yang mengambilnya, dan kita bisa segera menyelamatkan motor kita tentunya. Luar biasa bukan? Mengapa semua itu bisa dilakukan demi sebuah motor? Yaitu karena rasa memiliki kita kepada motor tersebut sangat kuat.

Begitu juga ketika kita menyukai lawan jenis hingga mempunyai rasa memiliki terhadapnya. Karena merasa lawan jenis itu milik kita, maka kita pun berusaha untuk melindunginya. Kita pun menjaganya agar dia selalu mencintai kita, tidak mencintai orang lain. Segala upaya ditempuh agar dia tetap mencintai kita. Hmmm... Sampai sebegitunya bukan?

Demikian halnya dengan keluarga. Rasa memiliki kita akan keluarga juga membuat kita selalu berusaha menjaganya agar jangan sampai keluarga kita berantakan, tetap utuh dan selalu bahagia.

3. Pengorbanan

Pengorbanan yang dimaksud adalah segala sesuatu yang kita berikan kepada sesuatu yang kita miliki tersebut. Berapa banyak harta yang kita keluarkan untuk merawat motor kita sampai kinclong? Setiap bulan diganti oli, setiap minggu diservis, dan setiap hari dicuci. Begitu cintanya kita kepada motor kesayangan, sampai-sampai berapa duit pun keluar, rasanya tidak menjadi masalah. Jika kita uat permisalan sekali ganti oli membutuhkan dana 50 ribu, sekali servis membutuhkan biaya 25 ribu, dan sekali cuci motor 10 ribu. Dalam waktu satu bulan kira-kira biaya untuk merawat motor dengan cara di atas menghasilkan dana 450 ribu. Hanya buat motor saja, 450 ribu. Hmm...

Bagi lawan jenis yang kita sukai, tentu pengorbanan bisa lebih besar lagi. Jika lawan jenis kemana-mana jalan kaki, maka kita pun pasti memikirkan bagaimana caranya membelikannya sepeda ontel. Jika sudah memakai sepeda ontel, tetapi masih kecapekan juga, motor pun dibelikan. Begitu seterusnya. Mengapa bisa begitu? Namanya juga pengorbanan. Walaupun dompet kosong melompong, kalau sudah datang malam minggu, saatnya ngapel. Jalan kaki pun tidak masalah walaupun jarak rumahnya 5 kilo. Hmm... Luar biasa bukan? Namanya juga pengorbanan.

Terhadap keluarga pun demikian. Apapun kita berikan asal keluarga rukun, akur, tidak ada yang saling bertengkar, sehat semua, dan tidak ada yang cemberut. Setiap awal bulan, pasti belanja pakaian baru. Untuk siapa? Ya untuk keluarga. Mengapa? Namanya juga pengorbanan. Sebulan sekali, diajak cek kesehatan ke dokter terkenal. Biar sehat terus maksudnya... (Sampai sebegitunya..)

Hal-hal di atas, menurut saya adalah hal-hal yang bisa kita gunakan untuk mengukur rasa cinta kita kepada harta, kepada orang yang kita cintai, dan kepada keluarga. Namun rasanya kita juga harus memikirkan bahwa harta, orang yang kita cintai, dan keluarga adalah materi, yang suatu saat materi itu akan mengalami kerusakan dan akhirnya hancur dan musnah.

Mungkin kita merawat motor sampai sedetil-detilnya dan sepertinya tidak akan bisa rusak. Mungkin sekali kita akan berpikir seperti ini. Tetapi benarkah motor tidak bisa rusak? Walau dirawat terus, pasti suatu saat motor itu juga akan habis dimakan usia. Andai motor kita bisa berusia sampai lama, mungkinkah kita juga masih bisa menjumpai motor kita sampai menjadi motor antik berusia 100 tahun? Apakah usia kita lebih banyak dari usia motor kita?

Orang yang kita cintai, sekuat apapun kita melindunginya, pasti akan musnah juga. Mengapa? Seperti halnya motor, orang yang kita cintai juga adalah materi yang suatu saat bisa rusak dan musnah. Bahkan orang yang kita cintai juga sama seperti kita, yang usianya juga mungkin masih kalah dibandingkan dengan motor kita.

Demikian pula dengan keluarga. Siapa yang bisa menjamin keabadian kebahagiaan dalam keluarga? Keluarga juga adalah manusia, sama seperti kita. Suatu saat, pasti akan musnah juga. Mungkin orang yang paling tua terlebih dahulu yang hilang (meninggal). Tetapi juga bisa terjadi orang yang paling muda yang akan hilang (meninggal). Atau mungkin malah kita sendiri yang akan hilang (meninggal) sehingga kita tidak bisa lagi melindungi keluarga kita.

Demikianlah. Bahwa sesungguhnya semua itu adalah materi yang pasti akan menuju kepada kemusnahannya, cepat atau lambat.

Jika demikian, mengapa kita tidak memberikan perhatian, rasa memiliki, dan pengorbanan kita kepada sesuatu yang tidak akan musnah? Mengapa kita tidak memberikan ketiga hal di atas demi sebuah perjuangan yang justru akan membawa kita kepada kebahagiaan dan cinta Allah? Mengapakah kita tidak memberikan ketiga hal di atas kepada perjuangan dakwah yang kita miliki?

Bukankah kita juga mencintai Allah? Bukankah kita juga mencintai perjuangan penegakan khilafah Islam? Bukankah kita juga mencintai gerakan dakwah yang kita jadikan sarana menuju tegaknya kalimatullah? Jika kita memang mengaku mencintai Allah dan perjuangan penegakkan Islam, mengapa tidak kita berikan porsi yang lebih besar ketiga hal di atas untuk perjuangan ini?

Sedikit bermuhasabah:

1. Berapa banyak kita memikirkan urusan dakwah ini?

2. Seberapa kuat rasa memiliki kita terhadap dakwah ini?

3. Seberapa kuat kita melindungi dakwah Islam ini?

4. Berapa banyak pengorbanan untuk dakwah ini?

5. Berapa tetes keringat yang kita berikan untuk urusan dakwah?

6. Berapa banyak harta yang kita miliki, kita gunakan untuk urusan dakwah?

Bukankah kita mencintai Allah?

Bukankah kita mencintai perjuangan ini?

Bukankah kita mencintai Islam?

Agaknya kita perlu mengingat ayat-ayat berikut ini:

"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan." (Q.S. Al kahfi: 46)

Ayat di atas memotivasi kita bahwa amalan-amalan saleh lebih kekal daripada harta dan keluarga.

"Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur" (Q.S. Ali Imran: 45)

Ayat di atas menjelaskan kepada kita, bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini. Kematian hanya akan terjadi degan izin Allah. Oleh karena itu banyak-banyaklah bersyukur.

Tentang rasa syukur, Allah juga berfirman,

"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (Q.S. Ibrahim: 7)

Tidak perlu takut miskin dengan pengorbanan harta, Allah telah berjanji kepada kita,

"Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit)" (Q.S. Ar Ra'd: 26)

Allah juga berfirman,

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" (Q.S. Al An'am: 32)

Wahai sahabat...
Allah tidak pernah melarang kita untuk mencintai sesuatu, kecuali ada batasnya. Cinta dia atas cinta, cinta tiada batas hanyalah milik Allah. Cintailah perjuangan ini sahabat..

Allah pasti akan meneguhkan kedudukan kita,

"Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (Q.S. Muhammad: 7)

Wallohua'lam

Ketaatan dan Pengorbanan (Refleksi Idul Adha 1432 H)


IDUL ADHA sangat erat kaitannya dengan dua hal: ketaatan dan pengorbanan. Ketaatan dalam konteks senantiasa menanti semua perintah Allah SWT, meskipun untuk itu kita mesti mengorbankan sesuatu yang paling kita cintai. Dan juga tentang Pengorbanan dalam artian sikap mengorbankan apa saja yang kita miliki dan cintai sebagai bukti ketaatan kita kepada Allah SWT.

Ada beberapa kisah inspiratif terkait ketaatan total dan pengorbanan sepenuhnya dalam melaksanakan perintah Allah Swt. Salah satu kisah paling menarik adalah kisah ketaatan dan pengorbanan Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As. Cerita tentang kepatuhan totalitas seorang hamba kepada Tuhannya.

Sewaktu Ismail mencapai usia remajanya, Nabi Ibrahim a.s. mendapat mimpi bahwa ia harus menyembelih Ismail puteranya. Dan mimpi seorang nabi adalah salah satu dari cara-cara turunnya wahyu Allah, maka perintah yang diterimanya dalam mimpi itu harus dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim. Ia duduk sejurus termenung memikirkan Ujian Maha berat yang ia hadapi. Sebagai seorang ayah yang dikurniai seorang putera yang sejak puluhan tahun diharap-harapkan dan didambakan, seorang putera yang telah mencapai usia dimana jasa-jasanya sudah dapat dimanfaatkan oleh si ayah, seorang putera yang diharapkan menjadi pewarisnya dan penyambung kelangsungan keturunannya, tiba-tiba harus dijadikan qurban dan harus direnggut nyawa oleh tangan si ayah sendiri.

Namun, ia sebagai seorang Nabi, pesuruh Allah dan pembawa agama yang seharusnya menjadi contoh dan teladan bagi para pengikutnya dalam ketaatan kepada Allah, menjalankan segala perintah-Nya dan menempatkan cintanya kepada Allah diatas cintanya kepada anak, isteri, harta benda dan lain-lain.

Nabi Ismail sebagai anak yang soleh yang sangat taat kepada Allah dan sangat bakti kepada orang tuanya, ketika diberitahu oleh ayahnya maksud kedatangannya kali ini tanpa ragu-ragu dan berfikir panjang berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu. Engkau akan menemuiku insya-Allah sebagai seorang yang sabar dan patuh kepada perintah..."

Kejadian tersebut merupakan suatu mukjizat dari Allah yang menegaskan bahwa perintah pergorbanan Ismail itu hanya suatu ujian bagi Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sampai sejauh mana cinta dan taat mereka kepada Allah. Ternyata keduanya telah lulus dalam ujian yang sangat berat itu. Nabi Ibrahim telah menunjukkan kesetiaan yang tulus dengan pergorbanan puteranya. untuk berbakti melaksanakan perintah Allah sedangkan Nabi Ismail tidak sedikit pun ragu atau bimbang dalam memperagakan kebaktiannya kepada Allah dan kepada orang tuanya dengan menyerahkan jiwa raganya untuk dikorbankan.

Barangkali ada diantara kita yang mengangggap kisah di atas memang luar biasa tapi tetap saja berat untuk ditiru dikarenakan lakon kisah tersebut adalah seorang nabi. realitanya tidak murni demikian. Mungkin iya berat bagi kita untuk meniru mentalitas Nabi Ibrahim As yang dengan teguh menjalankan perintah Tuhannya, akan tetapi sangat besar peluang bagi kita untuk meniru dan mencontoh mentalitas Ismail muda, yang ketika itu belum diangkat menjadi nabi, dalam hal ketaatan kepada perintah Allah Swt.

***

Idealnya Pemandangan dan kisah seperti diatas bukan sekedar kasus, melainkan harusnya merupakan karakter umat Islam. Kita Ambil contoh tentang ketaatan para para wanita muslimah zaman Rosul Saw yang bersegera dalam melaksanakan perintah alloh swt. suatu waktu, Ibunda 'Aisyah ra. menuturkan keutamaan wanita muslimah, serta kualitas keimanannya pada wahyu yang diturunkan. Beliau menceritakan bahwa setelah turun surat an-Nur ayat 31 tentang jilbab: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya …”. Pada saat yang sama, para suami segera menyampaikan ayat tersebut kepada para istrinya, anak-anak perempuannya, saudara-saudaranya perempuan, dll. Bersegeralah mereka mengambil sarung, seraya merobeknya dan menutupkannya ke seluruh tubuhnya. Ada juga yang menjadikan gordeng, bahkan taplak meja sebagai penutup badan dan kepalanya.

Ibunda 'Aisyah pun berdo'a: “Semoga Allah merahmati kaum wanita yang hijrah pertama kali, ketika Allah menurunkan firman-Nya, 'Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya …' segeralah kaum wanita itu merobek kain sarung mereka (untuk dijadikan kerudung) dan menutup kepala mereka dengannya” (HR. Bukhari).

Para wanita itu tidak mempertimbangkan dulu apakah maslahat atau tidak. Tidak pernah terbetik dalam benak mereka apakah dengan mengenakan kerudung (khimar) akan mengurangi kecantikannya. Tak ada keberatan dalam hatinya. Yang ada dalam dada mereka hanyalah semangat untuk segera patuh dan taat kepada Allah SWT Pencipta mereka.

***

Nabi Ibrahim telah berhasil menempatkan cintanya kepada Alloh diatas cintanya kepada anaknya. Ismail telah berhasil menempatkan cintanya kepada Alloh diatas cintanya kepada kehidupanya. Para sahabah (wanita-wanita zaman rosul) telah berhasil menempatkan cintanya kepada alloh diatas cintanya kepada Pujian dan keindahan

Lalu bagaimana tentang kita?. Memilukan. Alih-alih menunjukkan ketaatan totalitas terhadap perintah Alloh, malah sebaliknya, menunjukkan pembangkangan terhadap banyak perintah-perintah alloh.

Wahai kaum Muslim, adakah kepatuhan total terhadap syariat dalam diri kita sebagaimana Nabi Ibrahim, Ismail, dan para sahabat? Ataukah, kesenangan dunia telah menjerat kita hingga lebih takut kepada manusia dan abai kepada Pencipta manusia?

Allahu a'lam []

HAJI: Momentum Persatuan & Penegakan Syariat Islam


Beberapa hari yg lalu jutaan orang dari kaum Muslim berkumpul di Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Mereka datang dari berbagai belahan dunia, beragam warna kulit, bahasa, suku, bangsa, profesi, status sosial, dsb. Mereka semua berkumpul untuk memenuhi panggilan yang satu, yaitu dalam rangka menunaikan kewajiban mengerjakan haji yang telah diwajibkan oleh Allah kepada mereka (QS Ali Imran [3]: 97). Mereka rela berkorban untuk menunaikannya dan bersemangat mengerjakan semua rangkaian ibadah semata ingin meraih apa yang disabdakan Rasul SAW:

« مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ »

Barangsiapa mengerjakan ibadah haji karena Allah dan tidak melakukan perbuatan kotor dan fasik, niscaya ia akan kembali seperti pada saat dilahirkan oleh ibunya.(HR. Bukhari & Muslim).

Tak Sebatas Ibadah Ritual


Ibadah haji dalam sejarah kehidupan umat Islam sejak masa Rasul SAW dan masa berikutnya sangat sarat dengan makna dan memiliki pengaruh besar dalam jalannya kehidupan umat dan perjuangan mereka. Pengaruh ibadah haji itu bagi kehidupan dan perjuangan itu masih bisa dirasakan di negeri ini hingga pada masa penjajahan Belanda. Dengan ibadah haji, kaum muslim dahulu mendapatkan pencerahan politik dan terbangkitkan spirit perjuangan mereka. Pengaruh ideologis dan politis inilah yang menyebabkan Belanda khawatir. Karena itu, tahun 1908 Belanda pernah menegaskan bahwa melarang umat Islam berhaji akan lebih baik daripada terpaksa harus menembak mati mereka. (H. Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, hlm.22).

Namun sayang saat ini ibadah haji seolah kehilangan makna dan pengaruh politis dan perjuangannya. Pelaksanaan haji kian hari kian menurun kualitasnya. Yang menonjol dari haji kini hanyalah ibadah ritual belaka. Banyak jamaah yang melaksanakan ibadah ini hanya sekadar menggugurkan kewajiban. Lebih parah lagi tak sedikit yang menjalankannya seolah wisata reliji bahkan banyak dihiasi wisata belanja. Ibadah haji saat ini nyaris tak lagi terasa berpengaruh nyata dalam perbaikan kondisi umat.

Betul ibadah haji memang merupakan ibadah mahdhah. Dalam pelaksanaannya memang harus sangat kental dengan makna ruhiyah dan spiritual, tapi tentu saja tidak boleh menjadi sekadar ritual belaka. Meski merupakan ibadah mahdhah, namun bukan berarti tidak boleh dihiasi dengan makna selain makna ruhiyah seperti makna politis, ideologis dan perjuangan. Sebab Allah SWT di dalam al-Quran sendiri berfirman:

…وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ ﴿٢٧﴾ لِّيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ

Dan serukan kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka (QS. al-Hajj [22]: 27-28)

Ibn Abbas dan Mujahid berkata: “yaitu manfaat dunia dan akhirat” (Ibn Katsir, Tafsir al-Quran al-‘Azhim). Makna politis, ideologis, perjuangan, dsb itu merupakan bagian dari apa yang disebut “hikmah haji”, yaitu manfaat-manfaat yang dapat dipersaksikan oleh jamaah haji saat mereka menunaikan haji. Ayat ini menunjukkan, dalam ibadah haji kaum Muslimin akan mendapatkan berbagai manfaat yang sangat strategis dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam aspek politik (Ali bin Nayif As-Syahud, Al-Khulashah fi Ahkam al-Hajj wa al-Umrah, hlm.2)

Momentum Campakkan Sekulerisme

Ibadah haji mengajarkan untuk mengadopsi Islam secara kaffah. Ibadah haji mengajarkan bahwa Islam tidak memisahkan urusan ibadah, keluarga, moral dengan masalah politik, pemerintahan, ekonomi, pidana, sosial dan semua aspek kehidupan. Hal itu tercermin dalam khutbah yang disampaikan Nabi saw pada saat haji Wada’. Rasul SAW menyebutkan masalah akidah; kewajiban shalat lima waktu, zakat dan puasa Ramadhan. Beliau juga menyatakan hukum seputar suami isteri; keharaman darah dan kehormatan kaum Muslim; kewajiban mentaati ulil amri; menyatakan masalah pemilikan harta, dan kewajiban menghapus segala bentuk riba. Semua itu menunjukkan bahwa Islam dan syariahnya itu harus diambil dan diterapkan secara keseluruhan. Dengan menghayati makna tersebut, maka ibadah haji akan memberikan semangat besar untuk mencampakkan sekulerisme dan mengadopsi serta menerapkan Islam dan syariahnya secara total.

Membangkitkan Kesadaran Persatuan Umat

Ibadah haji mengajarkan bahwa umat Islam sesungguhnya adalah umat yang satu. Betapa tidak, jamaah haji berkumpulnya dari seluruh dunia untuk melakukan ibadah yang sama, tanpa mempedulikan lagi batasan negara bangsa, perbedaan suku, warna kulit, bahasa, bangsa, dsb. Hanya satu yang mengikat dan mempersatukan mereka yaitu akidah Islam. Fenomena itu sekaligus mengindikasikan bahwa umat Islam sesungguhnya bisa bersatu. Semua itu bisa dilihat dan dirasakan langsung oleh mereka yang menunaikan haji maupun oleh mereka yang tidak sedang berhaji. Persatuan itu mestinya tidak hanya saat menunaikan ibadah haji saja. Persatuan umat Islam merupakan kewajiban mutlak kapan pun dan dalam segenap aspek kehidupan seperti ekonomi maupun politik. Untuk itu mutlak dibutuhkan pula ada satu negara (al-Khilafah) yang menaungi umat Islam di seluruh dunia. Dari sini seharusnya tumbuh kesadaran dan tekad untuk mewujudkan persatuan umat Islam yang hakiki di bawah satu kepemimpinan seorang imam atau Khalifah sebagaimana yang diamanatkan oleh Rasul SAW.

Mewujudkan Makna Ukhuwah Yang Hakiki

Ibadah haji mengajarkan makna ukhuwah yang sebenarnya, bahwa sesungguhnya umat Islam itu bersaudara atas dasar iman. Penghayatan atas persaudaran ini mestinya melahirkan perhatian atas nasib seluruh kaum muslim, keberpihakan dan pembelaan atas mereka. Berbekal kesadaran itu, tentu kaum muslim terutama mereka yang telah berhaji tidak akan diam berpangku tangan saat darah kaum muslim ditumpahkan begitu saja di negeri mereka sendiri seperti di Afganistan, Pakistan, Irak, Suria dan negeri lainnya. Kesadaran itu akan mendorong kaum muslim tidak membiarkan penguasa yang menzalimi rakyatnya sendiri, tidak mau membela umat Islam bahkan menghalangi persatuan umat.

Menguatkan Ketundukan Kepada Syariah

Ibadah haji meningkatkan ketundukan pada syariah yang makin kuat. Sebab, ketundukan pada syariah adalah bukti dari haji yang mabrur. Haji mabrur adalah haji yang berpengaruh pada orang yang menunaikannya sehingga mendorongnya untuk menaati Allah SWT pada setiap apa yang Dia perintahkan dan menjauhkan diri dari setiap apa yang Dia larang. Ketundukan itu tentu bukan hanya dalam hal ibadah, moral dan urusan pribadi, melainkan wajib terwujud dalam segala aspek kehidupan yang luas, seperti dalam aspek politik dan ekonomi. Sistem demokrasi dan sistem Kapitalisme yang diharamkan Islam jelas harus dijauhi oleh mereka yang hajinya mabrur.

Membangkitkan Semangat Pengorbanan

Ibadah haji meningkatkan semangat pengorbanan. Sebab, mereka yang beribadah haji, telah dilatih untuk melakukan berbagai pengorbanan demi ketaatan kepada Allah SWT. Hal itu sudah semestinya membangkitkan semangat pengorbanan yang tinggi dalam perjuangan umat Islam, termasuk dalam perjuangan mengembalikan Khilafah dan persatuan umat Islam.

Muktamar Umat Islam

Ibadah haji merupakan momentum muktamar umat Islam untuk menyerukan berbagai solusi bagi umat Islam dan dunia. Mereka yang beribadah haji dari berbagai negeri Dunia Islam bisa saling bertukar informasi dan akhirnya akan dapat saling memahami, bahwa mereka sebenarnya masih hidup dalam penjajahan. Nilai perjuangan berlandaskan tauhid yang amat terasa dalam ibadah haji, tentu akan mendorong untuk berjuang membebaskan umat dari penjajahan dan mengantarkan umat menuju kehidupan yang penuh cahaya, dan itu sesungguhnya merupakan misi yang harus diemban oleh kaum muslim, apalagi mereka yang telah ditempa spirit perjuangan barlandaskan tauhid selama ibadah haji.

Momentum Penegakkan Syariat

Seiring dengan pelaksanaan ibadah haji saat ini, kaum muslim tidak boleh melupakan pesan sangat penting Rasul saw dalam khutbah saat Haji Wada’. Beliau berpesan:


« يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّى قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوا أَبَدًا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ »


Hai manusia sungguh telah aku tinggalkan di tengah-tengah kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh padanya niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya (HR al-Hakim dan al-Baihaqi).

Nabi saw berpesan untuk berpegang kapada kitabullah dan sunnah Beliau, yaitu berpegang kepada hukum-hukum syara’ yang termaktub di dalam keduanya. Rasul saw menjamin bahwa dengan itu niscaya umat ini tidak akan tersesat selama-lamanya.

Nasihat ini amat jelas menyebutkan bahwa bangkit atau terpuruknya nasib umat ditentukan oleh sejauhmana keterikatan mereka kepada hukum-hukum Allah. Terpuruknya nasib umat disebabkan karena mereka melepaskan diri dari hukum-hukum yang terkandung dalam al-Quran dan as-Sunnah.

Inilah makna sangat penting yang saat ini mendesak untuk kita wujudkan. Yaitu kembali berpegang kepada kitabullah dan sunnah Rasulullah saw, kembali berpegang kepada syariah dalam segenap aspek kehidupan. Hal itu hanya bisa kita wujudkan dengan jalan menerapkan syariah Islam secara total dalam bingkai Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Hanya dengan itulah niscaya kita tidak akan tersesat, tidak akan terjerumus ke jurang bencana. Sekaligus hal itu adalah kunci kebangkitan umat Islam dan terwujudnya kerahmatan bagi seluruh alam. [Wallâh a'lam bi ash-shawâb]

Khaulah Binti Al Azur

Khaulah binti Al Azur: Pahlawan Wanita yang Gagah Berani


Khaulah binti Al Azur adalah termasuk salah seorang srikandi muslimah yang sangat berani. Ia tidak pernah merasa takut dan gentar sehebat apapun kekuatan musuhnya. Setiap kali ada peperangan darahnya mendidih ingin bergabung dengan kaum pria untuk menumpas musuh-musuh Allah.

Pada mulanya setiap kali ia ikut dalam rombongan pasukan Islam, ia selalu berada di barisan belakang, bertugas untuk menyiapkan makan dan minum pasukan, mengobati yang terluka dan menyiapkan peralatan tempurnya. Kadang-kadang ia memberikan semangat kepada pasukan yang akan menghadapi musuh-musuh Allah.

Ketika ia melihat pasukan Islam terdesak dalam suatu peperangan dan banyak yang gugur, maka tidak ada pilihan lain lagi bagi Khaulah kecuali ikut berjuang membantu pasukan Islam. Ia tidak ingin tubuhnya dijamah kaum kafir, apalagi sampai menjadi rampasan perang dan dijadikan budak kaum kafir. Baginya lebih baik mati daripada menjadi budak kaum kafir. Meskipun ia seorang wanita, ia tunjukkan keberaniannya dan semangatnya dalam menebas batang leher kaum kafir. Maka sejak saat itulah ia sering terjun ke medan pertempuran dengan menutup mukanya (memakai cadar) karena tidak ingin diketahui bahwa ia seorang wanita. Ia hanya ingin berjuang dan berperang di barisan depan.

Dia mendapat ujian yang baik di Syam, tepatnya tatkala pasukan Islam bisa menaklukkan Syam pada masa Khalifah Abu Bakar Ash Shidiq. Sementara itu ia hidup hingga khalifah Amirul Mukminin Usman bin Affan.


Kepahlawanan Khaulah sangat terlihat dalam kisahnya ketika membebaskan saudara lelakinya Dhirar bin Al Azur.

Pada waktu terjadi perang antara pasukan Romawi dengan pasukan Islam yang dipimpin oleh Khalid bin Walid, sahabat nabi itu dengan gagahnya menyerbu wilayah Ajnadin. Pasukan Romawi dipimpin oleh Theodore dari sisi utara Syam (Suriah) menghalangi pasukan Islam.

Ketika kedua pasukan ini bertemu dan terjadi pertempuran yang sagat hebat, tiba-tiba terdegar berita bahwa Dhirar bin Al Azur salah seorang pejuang muslim yang sangat berani itu tertawan musuh (pasukan Romawi). Tertangkapnya Dhirar ini sangat membuat Panglima Khalid bin Walid marah.

Kemudian perang pun berlanjut dengan lebih dahsyat. Dalam pertempuran pembalasan itu ada salah seorang pasukan Islam yang memakai cadar yang bertempur mati-matian dan menewaskan beberapa pasukan Romawi. Ia bertempur tanpa mengenal lelah dan pantang mundur sedikit pun. Pasukan Romawi pun ketakutan bukan main sehingga barisan mereka banyak yang bubar.

Tidak jelas, siapa dia. Sebab yang terlihat hanya matanya saja. Dia mengikat pinggangnya dengan kain sorban berwarna hijau dan membelitkan ke dada dari bagian belakang (punggungnya). Dengan luar biasa dia menerobos, menusuk, menyabetkan pedang dan tanpa ragu dia telah menewaskan begitu banyak pasukan Romawi. Tidak terkesan sedikitpun rasa ingin lari dari medan juang. Subhanallah..

Panglima Khalid bin walid sangat heran dan penasaran dengan orang tersebut. Kemudian di tengah pertempuran itu, Khalid bin Walid mendekatinya dan bertanya kepada orang bercadar itu, “Siapakah kamu?” Tetapi prajurit bercadar itu mengelak dan terus menjauh. Khalid mengejarnya lagi dan mendesak lagi dengan pertanyaan yang sama. Kemudian orang bercadar itu merasa risih dengan pertanyaan yang diajukan dan menjawab, “Wahai panglima perang yang mulia, aku tidak menghindar darimu kecuali karena aku merasa malu terhadapmu. Anda seorang panglima besar, ditakuti musuh disegani kawan, sedangkan aku hanyalah seorang wanita bercadar. Tetapi aku melakukan ini semua karena keterpaksaanku. Aku marah dan sakit hati. Aku adalah Khaulah binti Al Azur. Aku sedang bersama kaumku. Kemudian datang orang memberi kabar bahwa saudaraku Dhirar tertangkap pasukan Romawi, kemudian aku pun langsung mengambil kuda dan melakukan seperti yang Anda lihat sekarang ini.”


Mendengar hal tersebut, hati Khalid menjadi sedih bercampur heran: mengapa sampai ada seowang wanita ikut keluar berjihad dengan gigihnya untuk menyelamatkan saudaranya yang tertawan? Maka Khalid pun berjanji akan berusaha sekeras mungkin untuk menyelamatkan Dhirar.

Tidak lama kemudian, akhirnya Dhirar pun berhasil diselamatkan.

Kemudian setelah itu pertempuran kembali memanas. Dalam pertempuran kali ini Khaulah kehilangan lagi saudaranya (Dhirar) untuk yang kedua kalinya. Kemudian ia memohon kepada Panglima Khalid bin Walid agar membebaskannya sekali lagi. Khalid pun menyatakan bahwa itu sudah menjadi kewajibannya.

Lalu pasukan Islam pun segera melancarkan serangan besar-besaran dan bisa mengepung benteng pertahanan musuh di kota Antiokia. Dhirar yang tertawan di kota itu akhirnya berhasil diselamatkan.

Tetapi Allah berkehendak lain. Ketika upaya penyelamatan Dhirar dan pasukan Islam lain yang tertawan, Khaulah dan beberapa wanita justru ikut tertawan sementara Dhirar telah bebas.

Meskipun ditawan pasukan Romawi, Khaulah pantang menyerah dan akan melakukan pemberontakan. Pada saat pasukan Romawi banyak yang keluar untuk berperang menghadapi pasukan Islam (sehingga yang tinggal di perkemahan hanya tinggal sedikit pasukan), kepada wanita-wanita muslimah yang lainnya Khaulah pun berseru, “Wahai putri-putri Himyar, keturunan-keturunan Tubba’, apakah kalian rela terhadap orang-orang kafir yang akan menjamah kalian dan anak-anak kalian dijadikan budak mereka? Lebih baik kita mati daripada menjadi budak hina dan pelayan Romawi!”

Khaulah dan wanita-wanita lainnya kemudian mengambil tiang-tiang yang menjadi penyangga perkemahan Romawi dan menjadikannya sebagai senjata. Dengan keberanian wanita-wanita itu, maka Khaulah dan para wanita muslimah pun bisa terbebas dari tawanan musuh.

Khansa Binti Amru

Khansa binti Amru: Keempat Puteranya Mati Syahid


Hari itu di atas kota Makkah begitu cerahnya. Tidak terdapat segumpal pun mendung bergelayut di sana. Penduduknya memperlihatkan rona wajah ceria. Gadis-gadis serta wanitanya berlalu lalang dengan jilbab yang menjulur hingga ke dada dan tubuh mereka. Dengan pandangan terpelihara, mereka tetap bertegur sapa sesekali berangkulan mesra dengan tutur kata yang sangat dan bermakna.

Kaum lelakinya giat ke tempat-tempat kerja dengan wajah-wajah mereka yang penuh semangat menatap hari esok dengan pandangan yang terpelihara pula. Luar biasa..

Dimanakah kebrutalan dan kebengisan serta kebodohan yang dulu menyelimuti kota Makkah? Kemanakah larinya para pemuda-pemuda Makkah yang suka berhura-hura dan menghabiskan waktu untuk berbagai kemaksiyatan dan hal-hal yang tidak berguna? Dimanakah orang-orang yang biasanya berjudi, minum khamr, menggoda wanita-wanita, dan berdiri di atas klub-klub semacam ‘diskotik’ yang digunakan orang-orang untuk melacurkan harga diri?

Tidak akan ada ditemukan segala bentuk pemandangan di atas, kecuali setelah Islam tegak di sana, di kota Makkah.

Kebaikan Islam telah mengubah berbagai tradisi jahiliyah dan adat istiadat rusak menjadi sebuah tata kehidupan yang sangat agung dengan peradaban mulia di sana. Rahmat Allah pun mengalir tidak henti-hentinya di kota yang diterapkan syariat Islam secara kaffah itu. Hingga akhirnya cucuran rahmat yang tak pernah berhenti mengalir itu merambah ke dalam hati sanubari seorang wanita jahiliyah yang bernama Khansa.

Ia adalah seorang wanita penyair kenamaan di kalangan bangsa Arab. Wajahnya yang jelita seakan membuat setiap pria untuk ‘takut’ menatap sinar wajahnya. Akhlaknya sungguh mulia, baik ketika sebelum Islam datang atau setelah Islam memuliakannya. Tenang, murah hati, tegas, tidak suka berpura-pura, dan apa adanya.

Oleh karena itu, berkat keislamannya, ia telah meninggikan derajatnya sendiri di atas saudara-saudaranya dan orang-orang yang pernah memberikan banyak pengorbanan kepada dirinya, yaitu mereka-mereka yang masing jahiliyah.

Suami Khana bernama Rawahah bin Abdul Aziz. Dari perkawinannya ini kelah Khansa akan dikaruniai empat putra, dan semuanya syahid dalam membela Islam. Khansa memiliki dua saudara, yaitu Muawiyah bin Amru dan Shakhr bin Amru. Keduanya tewas ketika Khansa belum memeluk Islam. Muawiyah dan Shakhr adalah musuh Islam. Keduanya tewas di tangan kaum muslim.

Suatu ketika, pada masa pemerintahan Umar bin Khathab, Khansa pernah mengadu dengan sebuah syair,

“Naiknya mentari mengingatkanku pada Shakhr

Aku mengingatnya setiap mentari terbenam

Kalau bukan karena banyak orang yang menangisi

Mayat mereka berada di sekitarku..

Tentulah telah kubunuh diriku

Tidaklah perlu menangisi orang seperti saudaraku

Tetapi akan kuhibur diriku dengan bersabar..”

Mendengar itu Khalifah Umar Al Faruq marah dan menyatakan bahwa kedua saudaranya mati dalam keadaan masih kafir, sehingga mereka akan tersiksa di neraka.

Mendengar penjelasan Umar bin Khathab tersebut, Khansa berkata, “Itulah yang memperlama kesedihanku. Dulu aku menangisi mereka untuk membalas dendam atas kematian mereka. Tetapi aku menangisi mereka, karena aku tidak bisa menolong mereka.”

Suatu ketika, Umar bin Khathab memerintahkan pasukan Islam untuk bersiap-siap menuju pertempuran melawan pasukan Parsi. Perang itu adalah Perang Qadhisiyah, dimana panglima perangnya adalah tokoh yang sangat hebat, yaitu Panglima Saad bin Abu Waqqash. Tidak ketinggalan Khansa yang mengumpulkan keempat putranya. Khansa berkata kepada keempat anaknya, “Wahai anakku, kalian telah memasuki Islam dengan rela dan ikhlas, telah ikut berhijrah dengan ikhlas pula. Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya kalian semua adalah anak dari pasangan suami istri yang berjuang dan hidup demi akidah tauhid. Aku tidak pernah mengkhianati ayahmu, dan aku juga tidak pernah memburuk-burukkan pamanmu. Aku tidak pernah merendahkan keturunanmu. Aku tidak pernah mengubah pertalian darahmu. Kalian tentu telah paham apa yang telah disediakan Allah kepada kaum muslim, yaitu pahala yang besar. Ketahuilah bahwasanya akhirat itu jauh lebih baik.”

Suara ibunya itu merasuk ke dalam keempat putranya. Suasana menjadi henisng dan tegang, tidak ada satu pun yang berbicara. Keempat pemuda itu sedang meresapi kata-kata ibunya. Lantas suasana hening itu dipecahkan oleh suara ibu mereka yang mengutip ayat Allah swt.,

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200)

Kemudian Khansa berkata lagi, “Jika kalian besok bangun pagi, insya Allah dalam keadaan selamat, maka keluarlah untuk memerangi musuh-musuh Allah. Apabila api peperangan telah meletus maka segeralah menuju ke jantung pertempuran, raihlah puncaknya. Insya Allah kalian akan berjaya mendapatkan balasan kemuliaan di kampung yang abadi dan tempat tinggal yang kekal.”

Keesokan harinya, keempat putra Khansa bersiap-siap menuju medan jihad. Di sana keempat putranya bersenandung syair tentang keutamaan jihad. Kemudian satu persatu mereka menyeruak ke medan perang dan satu persatu pula mereka syahid. Subhanallah..

Umar yang mengetahui kejadian tersebut menjadi terharu. Ucapan bela sungkawa pun mengalir dari lidahnya, “Segala puji telah memuliakan dengan gugurnya mereka, aku menghadapkan mereka pada Tuhanku, agar Dia berkenan mengumpulkan aku bersama mereka di tempat yang kekal dalam rahmat-Nya.”

Siapkah Anda menjadi Khansa binti Amru?

Disarikan dari buku Wanita-wanita Muslimah Pengukir Sejarah karya Ustadz Fuad Kauma.