Assalamu'alaykum ^_^

Teruntuk Siapapun Yang Merindukan Kemuliaan & Kebangkitan ISLAM

Assalamu'alaykum Warahmatullah..

Selamat Datang
Semoga Bermanfaat

11/14/11

Khansa Binti Amru

Khansa binti Amru: Keempat Puteranya Mati Syahid


Hari itu di atas kota Makkah begitu cerahnya. Tidak terdapat segumpal pun mendung bergelayut di sana. Penduduknya memperlihatkan rona wajah ceria. Gadis-gadis serta wanitanya berlalu lalang dengan jilbab yang menjulur hingga ke dada dan tubuh mereka. Dengan pandangan terpelihara, mereka tetap bertegur sapa sesekali berangkulan mesra dengan tutur kata yang sangat dan bermakna.

Kaum lelakinya giat ke tempat-tempat kerja dengan wajah-wajah mereka yang penuh semangat menatap hari esok dengan pandangan yang terpelihara pula. Luar biasa..

Dimanakah kebrutalan dan kebengisan serta kebodohan yang dulu menyelimuti kota Makkah? Kemanakah larinya para pemuda-pemuda Makkah yang suka berhura-hura dan menghabiskan waktu untuk berbagai kemaksiyatan dan hal-hal yang tidak berguna? Dimanakah orang-orang yang biasanya berjudi, minum khamr, menggoda wanita-wanita, dan berdiri di atas klub-klub semacam ‘diskotik’ yang digunakan orang-orang untuk melacurkan harga diri?

Tidak akan ada ditemukan segala bentuk pemandangan di atas, kecuali setelah Islam tegak di sana, di kota Makkah.

Kebaikan Islam telah mengubah berbagai tradisi jahiliyah dan adat istiadat rusak menjadi sebuah tata kehidupan yang sangat agung dengan peradaban mulia di sana. Rahmat Allah pun mengalir tidak henti-hentinya di kota yang diterapkan syariat Islam secara kaffah itu. Hingga akhirnya cucuran rahmat yang tak pernah berhenti mengalir itu merambah ke dalam hati sanubari seorang wanita jahiliyah yang bernama Khansa.

Ia adalah seorang wanita penyair kenamaan di kalangan bangsa Arab. Wajahnya yang jelita seakan membuat setiap pria untuk ‘takut’ menatap sinar wajahnya. Akhlaknya sungguh mulia, baik ketika sebelum Islam datang atau setelah Islam memuliakannya. Tenang, murah hati, tegas, tidak suka berpura-pura, dan apa adanya.

Oleh karena itu, berkat keislamannya, ia telah meninggikan derajatnya sendiri di atas saudara-saudaranya dan orang-orang yang pernah memberikan banyak pengorbanan kepada dirinya, yaitu mereka-mereka yang masing jahiliyah.

Suami Khana bernama Rawahah bin Abdul Aziz. Dari perkawinannya ini kelah Khansa akan dikaruniai empat putra, dan semuanya syahid dalam membela Islam. Khansa memiliki dua saudara, yaitu Muawiyah bin Amru dan Shakhr bin Amru. Keduanya tewas ketika Khansa belum memeluk Islam. Muawiyah dan Shakhr adalah musuh Islam. Keduanya tewas di tangan kaum muslim.

Suatu ketika, pada masa pemerintahan Umar bin Khathab, Khansa pernah mengadu dengan sebuah syair,

“Naiknya mentari mengingatkanku pada Shakhr

Aku mengingatnya setiap mentari terbenam

Kalau bukan karena banyak orang yang menangisi

Mayat mereka berada di sekitarku..

Tentulah telah kubunuh diriku

Tidaklah perlu menangisi orang seperti saudaraku

Tetapi akan kuhibur diriku dengan bersabar..”

Mendengar itu Khalifah Umar Al Faruq marah dan menyatakan bahwa kedua saudaranya mati dalam keadaan masih kafir, sehingga mereka akan tersiksa di neraka.

Mendengar penjelasan Umar bin Khathab tersebut, Khansa berkata, “Itulah yang memperlama kesedihanku. Dulu aku menangisi mereka untuk membalas dendam atas kematian mereka. Tetapi aku menangisi mereka, karena aku tidak bisa menolong mereka.”

Suatu ketika, Umar bin Khathab memerintahkan pasukan Islam untuk bersiap-siap menuju pertempuran melawan pasukan Parsi. Perang itu adalah Perang Qadhisiyah, dimana panglima perangnya adalah tokoh yang sangat hebat, yaitu Panglima Saad bin Abu Waqqash. Tidak ketinggalan Khansa yang mengumpulkan keempat putranya. Khansa berkata kepada keempat anaknya, “Wahai anakku, kalian telah memasuki Islam dengan rela dan ikhlas, telah ikut berhijrah dengan ikhlas pula. Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, sesungguhnya kalian semua adalah anak dari pasangan suami istri yang berjuang dan hidup demi akidah tauhid. Aku tidak pernah mengkhianati ayahmu, dan aku juga tidak pernah memburuk-burukkan pamanmu. Aku tidak pernah merendahkan keturunanmu. Aku tidak pernah mengubah pertalian darahmu. Kalian tentu telah paham apa yang telah disediakan Allah kepada kaum muslim, yaitu pahala yang besar. Ketahuilah bahwasanya akhirat itu jauh lebih baik.”

Suara ibunya itu merasuk ke dalam keempat putranya. Suasana menjadi henisng dan tegang, tidak ada satu pun yang berbicara. Keempat pemuda itu sedang meresapi kata-kata ibunya. Lantas suasana hening itu dipecahkan oleh suara ibu mereka yang mengutip ayat Allah swt.,

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imran: 200)

Kemudian Khansa berkata lagi, “Jika kalian besok bangun pagi, insya Allah dalam keadaan selamat, maka keluarlah untuk memerangi musuh-musuh Allah. Apabila api peperangan telah meletus maka segeralah menuju ke jantung pertempuran, raihlah puncaknya. Insya Allah kalian akan berjaya mendapatkan balasan kemuliaan di kampung yang abadi dan tempat tinggal yang kekal.”

Keesokan harinya, keempat putra Khansa bersiap-siap menuju medan jihad. Di sana keempat putranya bersenandung syair tentang keutamaan jihad. Kemudian satu persatu mereka menyeruak ke medan perang dan satu persatu pula mereka syahid. Subhanallah..

Umar yang mengetahui kejadian tersebut menjadi terharu. Ucapan bela sungkawa pun mengalir dari lidahnya, “Segala puji telah memuliakan dengan gugurnya mereka, aku menghadapkan mereka pada Tuhanku, agar Dia berkenan mengumpulkan aku bersama mereka di tempat yang kekal dalam rahmat-Nya.”

Siapkah Anda menjadi Khansa binti Amru?

Disarikan dari buku Wanita-wanita Muslimah Pengukir Sejarah karya Ustadz Fuad Kauma.

No comments:

Post a Comment