Assalamu'alaykum ^_^

Teruntuk Siapapun Yang Merindukan Kemuliaan & Kebangkitan ISLAM

Assalamu'alaykum Warahmatullah..

Selamat Datang
Semoga Bermanfaat

11/23/11

Maka Nikmat Yang Manakah Yang Kamu Dustakan?


Kenikmatan yang Allah telah berikan kepada kita semua sungguh sangat luar biasa, dan sesungguhnya apabila lautan yang terhampar luas dijadikan tinta untuk menghitung nikmat Allah tentunya tidak akan mampu untuk menghitung banyaknya nikmat Allah yang telah diberikan Kepada kita semua, ketika kita berbicara tentang pernafasan kita, seandainya kita tidak dapat bernafas dan memerlukan Alat bantu pernafasan atau semacam Oxican yang harganya berkisar Rp.21.500/Botol dan digunakan sekali pakai setara 2,5 Menit, tentunya kalau kita hitung sehari saja habis Rp.216.000 seandainya alat itu kita gunakan dari lahir tentunya kalau kita kaliakan dengan berapa banyak Umur kita sekarang mungkin kita akan tercengngang melihat hasilnya karena terlalu banyak sekali, dan ini / pernafasan kita ini Allah telah memberikanya gratis kepada kita, apakah wajar kalau Allah meminta kita untuk bersukur kepada-Nya ? dan tentunya sangat wajar sekali, itu baru sekedar pernafasan yang kita bicarakan, kita belum membicarakan Bagaimana kenikmatan mata kita ? kenikmatan telingga, alat peraba kita, Umur kita dan masih banyak kenikmatan yang Allah berikan kepada kita semua, dan itu Allah berikan kepada kita semua dengan Gratis, sekali lagi itu gratis dan Allah hanya meminta kita untuk bersukur dengan cara beribadah kepada-Nya, dan itu wajar sekali karena kita adalah ciptaanya.

Didalam surat Ar-Rahman Allah telah mengulanggi beberapa kali ayat yang artinya Nikmat mana lagi yang engkau dustakan ? Nikmat mana lagi yang engkau dustakan ? Nikmat mana lagi yang engkau dustakan ?

"(Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al Qur'an. Dia menciptakan manusia, Mengajarnya pandai berbicara. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya. Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.

Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk (Nya). di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang. Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (Q.S. Ar-Rahman 55:1-13)

Satu hal yang menarik dari kandungan surat ar-Rahman adalah adanya pengulangan satu ayat yang berbunyi "fabiayyi alai rabbikuma tukadziban" (Maka ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?). Kalimat ini diulang berkali-kali dalam surat ini. Apa gerangan makna kalimat tersebut?

Surat ar-Rahman adalah surat yang memuat retorika yang amat tinggi dari Allah. Setelah Allah menguraikan beberapa ni'mat yang dianugerahkan kepada kita, Allah bertanya: "Maka ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?". Allah ingin menunjukkan bahwa nikmat yang Allah berikan kepada manusia itu tidak bisa diingakari keberadaannya oleh manusia. Yang bisa dilakukan oleh manusia adalah mendustakannya. Dusta berarti menyembunyikan kebenaran. Manusia sebenarnya tahu bahwa mereka telah diberi nikmat oleh Allah, tapi mereka menyembunyikan kebenaran itu; mereka mendustakannya! dan berkhianat.
Kata pengulangan "Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang kita dustakan!!", perlulah kiranya direnungkan mendalam.

Bagi yang telah bergelimang kenikmatan, telah penuh pundi-pundi uang, telah berderet gelar di kartu nama, telah berjejer mobil di garasi, ingatlah-baik akan apa yang didustakan atau tidak semua ni'mat yang peroleh hari ini akan ditanya oleh Allah nanti di hari kiamat!. Dihari dimana semua manusia dimintakan pertanggung jawaban atas semua harta benda, kepemimpinan dan semua titipan yang diberikan kepada kita!.

"Sungguh kamu pasti akan ditanya pada hari itu akan nikmat yang kamu peroleh saat ini" (Q.S At Takatsur 102: 8)

Tentunya sangat wajar sekali ketika kita umat islam menginginkan penerapan sayariat isalam secara kaffah di dalam sendi-sendi kehidupan yang merupakan wujud syukur, kecintaan dan ketunduan kita terhadap Allah Sang Pencipta kita. Waallahu A’lam

No comments:

Post a Comment